Ketua ABgI: Pengembangan Biogas Harus Didukung Ekosistem yang Kuat

oleh -24 Dilihat
Ekosistem Biogas untuk Nett Zero Emmisions
Ekosistem Biogas untuk Net Zero Emissions.

JAKARTA – Ketua Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI), Muhammad Abdul Kholiq, menyebut peran biogas di Indonesia semakin mendapat perhatian sebagai bagian dari strategi nasional mencapai target Net Zero Emissions (NZE) yang telah menjadi komitmen global sejak Paris Agreement 2015.

Menurut Abdul Kholiq, meningkatnya perhatian terhadap biogas bukan hanya didorong kebutuhan energi terbarukan, tetapi juga karena kemampuannya menjawab persoalan lingkungan melalui pengolahan limbah organik menjadi energi yang bernilai ekonomis.

“Peran biogas di Indonesia mendapatkan atensi yang lebih besar sebagai bagian dari upaya pencapaian target Net Zero Emissions sesuai Paris Agreement tahun 2015,” kata Abdul Kholiq, Jumat (19/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa teknologi biogas memiliki keunggulan karena mampu mengubah berbagai jenis limbah organik menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

“Pengolahan limbah organik, a.l. limbah pabrik kelapa sawit atau POME, limbah pabrik tapioka, dan limbah organik lainnya, menjadi biogas berarti pengurangan beban pencemaran ke lingkungan, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan perolehan biogas sebagai energi terbarukan,” ujarnya.

ABgI menilai manfaat tersebut menjadikan biogas sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung ketahanan energi nasional. Pada skala rumah tangga, biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak melalui pemanfaatan kotoran ternak maupun limbah organik lainnya.

Sementara pada sektor industri, pemanfaatannya jauh lebih luas, mulai dari bahan bakar pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg), pengganti gas alam dan batu bara, hingga produksi BioCNG atau compressed biomethane yang memiliki karakteristik serupa dengan gas alam.

Meski potensinya besar, pemanfaatan biogas di Indonesia masih tergolong rendah. Abdul Kholiq mengungkapkan bahwa dari sekitar 1.000 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 10 persen yang telah memiliki fasilitas pengolahan biogas.

Padahal, selain limbah sawit, Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah dari limbah industri agro, sektor pertanian, peternakan, hingga sampah organik rumah tangga.

ABgI juga mencatat sejumlah negara telah lebih dahulu mengembangkan teknologi biogas secara masif. Untuk skala kecil, penerapan digester biogas berkembang pesat di China, India, dan Nepal.

“Kita boleh bangga telah membangun 45-50 ribuan digester biogas, namun India menargetkan 60 ribuan digester biogas dalam setahun,” tambah Abdul Kholiq.

Sedangkan untuk biogas skala industri, negara-negara Eropa seperti Jerman menjadi contoh bagaimana limbah organik dipandang sebagai sumber energi yang bernilai tinggi.

“Di Jerman para pengelola instalasi biogas sampai berebut mendapatkan bahan baku berupa limbah atau sampah organik. Mereka sampai menanam tanaman jagung yang mereka simpan dalam bentuk silage untuk persediaan bahan baku reaktor biogas mereka,” jelasnya.

Meski prospek pengembangannya menjanjikan, Abdul Kholiq mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, mulai dari fokus industri yang masih berorientasi pada produksi utama, keterbatasan infrastruktur, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Karena itu, ABgI mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, akademisi, lembaga riset, hingga media untuk mempercepat pemanfaatan biogas di Indonesia.

“Untuk pengembangan biogas di Indonesia perlu penguatan ekosistem dan sinergi antar pihak. Pemerintah, industri atau swasta baik pengembang maupun user, lembaga pendanaan baik perbankan maupun non perbankan, termasuk pendanaan hijau/green financing, akademik dan lembaga riset, dan juga media perlu bahu-membahu, bekerja sama mendorong penerapan teknologi biogas yang lebih masif di Indonesia,” tegas Abdul Kholiq.